Meninggalkan Shalat

Shalat adalah salah satu dari rukun islam. Mendirikan shalat wajib hukum nya kecuali bagi mereka yg secara syariat tidak bisa menjalankannya.

Fenomena sekarang yg sering saya lihat adalah pekara malas dalam menyegerakan shalat, berfikir bahwa waktu shalat masih lama, masih ada kerjaan yg harus diprioritaskan, takut kepada atasan, dll alasan yg ada

Ibnu hazm berkara, “Setelah syrik (mempersekutukan Allah), tidak ada dosa yg lebih besar daripada menunda shalat hingga habis waktunya, dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yg benar

Hammam meriwayatkan, kami diberitakan oleh Qatadah, dari al-Hasan, dari Huraits bin Qabishah, dia berkata, aku dituturkan oleh Abu Hurairah, dia berkata Rasulullah shallallah alaihi wasallam bersabda yg artinya

Amal yang paling pertama diHisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya bagus, maka beruntung dan selamat, dan jika shalatnya rusak (kesempurnaannya) maka dia gagal dan rugi.

Sungguh, dari apa yg kita bisa dapat dari hadist tersebut, ternyata shalat mempunyai manfaat yg sangat besar, manfaat di hari akhir nanti.

Allah juga berfirman pada Surat maryam 59-60 yang artinya :

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang mereka menyia-nyiakan shalat dan menurutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemukan kesesatan. Kecuali yang bertaubat

pada surat Al Muddatstir 42-43 Allah juga berfirman yg artinya :

Apakah yang memasukkanmu kedalam (neraka) Saqqar? Mereka menjawab, kami dahulu tidak termasuk orang orang yg mengerjakan shalat

Rasulullah shallallah alaihi wasallam juga bersabda yang artinya

Perjanjian yang ada antara kita dengan mereka adalah shalat. maka barang siapa yg meninggalkannya, maka dia telah kafir.

Antara seorang hamba dengan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat.

Maka sebagai seorang muslim yang patuh dan taat terhadap firman Allah (Alquran) dan mengikuti Rasulullah (hadist), haruslah yakin terhadap ancaman apa yang didapat jika seseorang lalai terhadap shalatnya

1. menunda shalat dan meng-akhirkannya = dosa besar

2. meninggalkan shalat = dianggap kafir / musyrik

Maka, saudaraku…

Dirikanlah shalat, pada awal waktu, tidakkah kau takut kepada Allah? Karena kau diciptakan semata2 hanya untuk beribadah kepada Allah.

Wallahualam.

Advertisements

Pengenalan Tauhid (part 1)

Pelajaran penting bagi setiap muslim adalah mengenal tauhid, mengenal kata La ilaha illallah, Tiada tuhan yg patut disembah selain Allah.

Ini adalah pelajaran dasar yg setiap muslim harus mengerti seluk beluknya, karena insyaAllah jika mengerti tentang tauhid, akan bagus keimanannya.

Allah berfirman pada surat adz-dzariyat : 56 yang artinya

Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka ber-ibadah kepadaKu

Ayat ini menunjukkan tentang kewajiban bertauhid, yaitu mengEsakan per-ibadah-an hanya kepada Allah, karena tidaklah jin dan manusia diciptakan, kecuali untuk tujuan tersebut.

Juga pada surat An nahl : 36, yang artinya

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), Ber-ibadah-lah kepada Allah semata dan jauhilah thagut….

pelajaran yg dapat dipetik dari ayat ini adalah bahwa Allah telah mengutus seorang rasul pada setiap kelompok dan sekumpulan manusia, yang mengajak kepada manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadahan selain kepadaNya.

Ayat ini juga menegaskan atas keagungan perkara tauhud dan tauhid wajib atas semua umat. Karena agama para nabi dan rasul adalah 1 yaitu memurnikan peribadahan hanya kepada Allah dan meninggalkan segala lawan kata dari tauhid yaitu syirik, meskipun syariaat mereka berbeda beda.

Juga pada surat An nisa : 36 yang artinya

Dan beribadahlah kalian kepada Allah, dan janganlah menyekutukanNya sedikitpun…

Disini jelas mengenai perintah ttng menghindarkan kesyirikan, karena Allah telah melarang dan mengharamkannya. Juga tidak boleh menyekutukan Allah dengan suatu apapun dalam ber-ibadah, baik dengan malaikat, jin, nabi, orang shalih, patung, apalagi dengan para habib ataupun orang yg sudah meninggal.

Memurnikan bahwa hanya Allah yang paling pantas untuk di Ibadah-i adalah konsep utama dari mengenal tauhid. Tidak melakukan ibadah apapun terhadap selain Allah.

…..

InsyaAllah akan berlanjut di part 2.

Sedekah (agar harta mu bermanfaat bagi mu di hari akhir)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Teman teman yg saya banggakan, saudara saudari ku, tak henti hentinya kita mengucap syukur kepada Allah yang Maha pemberi, Maha pemurah, lagi Maha penyayang kepada hamba hambanya.

Berbicara soal rezeki, seorang muslim harusnya yakin dan sadar, bahwa rezeki tidak akan pernah lari darinya, sama seperti maut. Rezeki akan mengejar kita bagaimanapun kita ingin lari darinya.

Oleh karena itu, seorang muslim seharusnya tinggal memikirkan bagaimana cara mendapatkan rezeki sesuai tuntunan syar’i (baik itu sumbernya, jalannya/prosesnya, dll). Tidak pantas seorang muslim yg dijamin rezekinya oleh Allah, mengambil jalan jalan yg diharamkan untuk mendapat rezekinya.

Seseorang pernah berkata kepada saya :

Orang muslim itu, harus jeli mencari rezekinya, ibarat 1 pohon apel sedang berbuah. ada buah yang busuk, ada buah apel yg sudah jatuh ditanah, ada buah apel yang baik kualitasnya. Semua buah apel sebenarnya masih bisa dikonsumsi, meski yg busuk (karena ada beberapa bagian yg bisa dibersihkan). Ibarat semua apel tersebut, itulah rezeki mu. Tapi orang muslim harus jeli memilih apel mana yg paling baik kualitasnya. Begitu pula dengan kita di dunia ini, rezeki terhampar seluas2nya, tinggal kita seleksi… mana rezeki yang halal baik cara mendapatkan dan sumbernya.

Setelah mendapatkan rezeki, haruslah kita mengerti bahwa ada hak yang harus kita keluarkan. Baik itu berupa zakat (insyaAllah akan sy bahas di lain kesempatan) dan sedekah.

Dari abu hurairah, bahwasanya Nabi shallahllah alaihi wasallam bersabda yg artinya :

Tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya di hari yang tidak ada naungan selain naunganNya……(kemudian beliau menyebutkan lanjutan hadist tersebut, dan didalamnya tercantum) dan seseorang lelaki yang mengeluarkan sedekah dengan sembunyi sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.

Dari Abu sa’id al-khudri, nabi shallallah alaihi wasallam bersabda yang artinya :

Seorang muslim manapun yg memberikan pakaian kepada orang muslim lainnya yang tidak memiliki pakaian, maka Allah akan memberikannya pakaian surta hijau surga. Seorang muslim manapun yang memberi makan orang muslim yg sedang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makanan dari buah buahan surga. Dan orang muslim manapun yg memberi minum org muslim yg sedang kehausan, maka Allah akan memberi minum orang itu dari minuman khamar murni yg tertutup rapat.

Dari hadist2 diatas, kita bisa memetik intisari bahwa pentingnya sedekah bagi seorang muslim. Bukan hanya dijanjikan hal yg berlimpah oleh Allah pada hari akhir, tapi juga memberikan ketenangan diri. Bersedekah juga memiliki sistem yg kalau bisa diibaratkan seperti MLM.

Dari aisyah, beliau berkata, Nabi shallallah alaihi wasallam bersabda yang artinya :

Jika seorang wanita menginfakkan sebagian makanan rumahnya tampa memudaratkan, maka dia mendapat pahala karena telah berinfak, dan suaminya juga mendapat pahala, karena dialah yang telah mencari nafkahnya. Demikian juga para penjaga harta, akan mendapatkan pahala sama, masing masing mereka tidak mengurangi pahala yg lain sedikitpun.

Jadi, seharusnya seorang muslim mengerti apa fadhillah dari sedekah itu sendiri, bukan hanya berfikir bahwa sedekah itu mengurangi harta, tapi sedekah itu adalah harta yang kau simpan dilangit untuk membantu timbangan amal mu.

Wallahualam

Hanya allah sang maha pemberi petunjuk.

Ah ini kan cuma sunnah…

Tulisan yang menarik dari Ust. Badru Salam, Lc, rahimullah

Al Qurthubi rahimahullahu berkata:

“Siapa yang terus menerus meninggalkan sunnah, maka itu kekurangan dalam agamanya..

Jika ia meninggalkannya karena meremehkan dan tidak suka..
Maka itu kefasikan..

Karena adanya ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”

Dahulu para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya..
Senantiasa menjaga yang sunnah sebagaimana menjaga yang wajib..

Mereka tidak membedakan keduanya dalam meraih pahala..

(Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari 3/265).

Banyak sunnah yang diremehkan di zaman ini..
Dengan alasan: ah itu kan cuma sunnah..

Padahal sunnah bukanlah untuk ditinggalkan..

Banyak perkara sunnah yang berpahala amat besar..
Seperti shalat qabliyah shubuh yang lebih baik dari dunia dan seisinya..

Bahkan ada amalan sunnah yang menjadi tonggak kebaikan..

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Senantiasa manusia di atas kebaikan selama mereka bersegera berbuka puasa.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bagi kita penuntut ilmu..
Mari hiasi hari-hari dengan sunnah..
Meraih cinta Allah..

Dia berfirman dalam hadits qudsi..

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

“Senantiasa hambaKu bertaqarrub kepadaku dengan ibadah yang sunnah hingga Aku mencintainya.”

Untuk inilah kita berlomba..

Jadi, tanamkan saat ini, sunnah bukan sekedar sunnah, bukan sekedar perkara yang levelnya direndahkan, tapi sunnah adalah cara kita untuk mengikuti dan menjiplak hidup Rasulullah shallallah alaihi wasallam, cara kita mencintai beliau adalah mengikuti sunnahnya.

 

Wallahualam

Hanya Allah sang pemberi Hidayah

Suudzon.. (Berburuk sangka) terhadap orang lain

images

Berburuk sangka adalah salah satu akhlak yang tercela dan sangat dibenci oleh islam, sehingga Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam dalam banyak sabdanya melarang dari sikap tercela ini, antara lain;

Artinya: Dari Abu Hurairah , Nabi bersabda: “Jauhilah oleh kalian berprasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.”

[ HR. Bukhari dan Muslim ]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memberi peringatan kepada umatnya dari perkara-perkara yang mendatangkan kemudharatan atau menimbulkan keretakan ukhuwah islamiyah antara kaum muslimin. Dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mewaspadai umatnya dari sifat buruk sangka terhadap saudaranya karena hal ini akan membawa kerusakan bagi mereka.

Kandungan hadits ini mirip dengan firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari pra-sangka itu adalah dosa.”
[ QS. al-Hujarat : 12 ].

Akan tetapi dalam ayat tersebut Allah berfirman “sebagian dari pra-sangka itu adalah dosa”, Allah tidak berfirman semua prasangka, karena prasangka yang bersandar pada bukti dan penguat tidaklah mengapa.

Adapun prasangka yang dicela dan dilarang dalam hadits di atas adalah prasangka semata tanpa ada faktor penguat atau qorinah (alasan) tertentu. Beliau menyatakan bahwa hal ini adalah sedusta-dustanya berita, karena ketika seseorang mulai berprasangka buruk, maka jiwanya berkata kepadanya ‘si fulan berkata demikian, si fulan melakukan hal itu, dia ingin berbuat demikian dan seterusnya’, hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam namakan dengan sedusta-dustanya pembicaraan.

Dan prasangka buruk merupakan sedusta-dustanya perkataan.

Wallahu a’lam

Cintailah sewajarnya, Bencilah sewajarnya

Cintailah seseorang sewajarnya dengan tidak berlebihan dalam memujinya. Dan bencilah seseorang sewajarnya dengan tidak berlebihan dalam mengkritiknya hingga mencapai tahap pencelaan atau amarah. Karena orang yang kita sukai pada saat ini bisa menjadi orang yang paling kita benci di masa depan. Dan orang yang kita benci saat ini bisa menjadi orang yang paling kita sukai di masa depan
.
Al-Munawi rahimahullah berkata ketika menerangkan hadits ini:
.
“Bisa jadi rasa cinta akan berubah menjadi kebencian dengan perubahan zaman dan keadaan. Maka janganlah engkau berlebihan dalam mencintainya sehingga engkau menyesal ketika membencinya. Atau kebencian berubah menjadi rasa cinta maka janganlah engkau berlebihan dalam membencinya sehingga engkau malu untuk mencintainya” (Faidhul Qadir 1/176)
.
Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pernah berkata:
.
“Jangan sampai rasa cintamu berlebihan (terlalu mengelu-elukan karena suka). Dan jangan sampai rasa bencimu berlebihan menjadi kehancuran.” Maka Umar ditanya: “Bagaimana itu?” Maka beliau menjawab: “Jika engkau suka, maka engkau terlalu menge-elukannya seperti anak kecil. Dan jika engkau benci, maka engkau suka agar sahabatmu binasa.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad No. 1322)

 

Wallahualam

Saat sedang shalat sunnah dan Iqamat dikumandangkan, apa yang harus dilakukan ?

jangan-sholat-sunnah-saat-iqamah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, tidak henti hentinya kita mengucap syukur kepada Allah sang Maha pemberi nikmat, dan pemilik apa yang ada di alam semesta ini.

Fenomena menarik yang sering terjadi di tengah masyarakat yang sering saya perhatikan adalah, disaat seseorang sedang mengerjakan shalat sunnah, baik itu qabliyah atau shalat tahiyatul mesjid, kemudian sang muadzin mengumandangkan iqamat, dikarenakan waktu / timer di jam sudah menunjukkan angka 00:00.

Sebenarnya, apa yang harus kita lakukan? meneruskan shalat? yang mana mungkin bisa mengganggu tertib nya shaf? (pada saat jamaah sudah melakukan takbiratul ihram, orang yang sedang shalat sunnah tadi berada ditengah tengah, ditakutkan menganggu lurus dan rapatnya shaf), atau haruskah kita meng-akhirkan shalat sunnah dan bersegera merapatkan shaf untuk mengerjakan shalat wajib?

Asy-Syaikh Abdul bin Baz rahimullah pernah ditanya dengan hal serupa seperti diatas, maka beliau menjawab

“Anda wajib memutuskan shalat sunnah apabila iqamat telah dikumandangkan”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya :

“Apabila iqamat telah diserukan, tidak ada shalat yang ditegakkan selain shalat wajib”

Maka dari itu, anda wajib memutus shalat sunnah lalu bergegas mengikuti shalat wajib. Anda masuk ke dalam shaf dan merapatkannya. Namun, jika anda sudah berada pada akhir shalat anda, dan telah melakukan rukuk yang kedua, sedang sujud atau tahiyat, silahkan anda menyempurnakannya. Setelah itu, anda bangkit untuk bergabung ke dalam shaf dan shalat bersama imam.

Jadi, sudah seharusnya seorang muslim mengerti mengenai permasalahan ini, dan bersikap sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan.

Wallahualam

Hanya Allah sang pemberi Hidayah.